Celana Pendek “jebol”

28 Nov

Celana Pendek “jebol”

Malam Tadi celana tidur yang saya beli 5 tahun yang lalu “jebol”, rasanya sedih (bukan lebay lho). Sebagian besar kita, paling senang pakai baju, celana yang “tuwir” untuk tidur, bahkan kadang warnanya kusam dan robek kecil – kecil, biasanya alasannya karena nyaman dan pas untuk tidur.

 

Pagi tadi saya ngomong sama mbak asisten untuk “jangan dicuci lagi” dan “jika perlu untuk bersih-bersih”. Mbak asisten malahan menjawab sebenarnya celana “jebol” itu sudah pernah dijahit. Mbak Assiten malah nanya apakah nggak dijahit saja lagi ?

 

Saya putuskan untuk mem-pensiun-kan saja celana “jebol” ini, sebab saya rasa sudah nggak mungkin dijahit, karena sudah “memet”.

 

Kejadian sederhana ini sebenarnya sangat berdekatan sekali dengan acara siangnya, salah satu rekan kerja “purna bakti” setelah 23 tahun bekerja. Rekan tersebut “baru” berumur 55 tahun. Secara fisik masih sehat.

 

Pertanyaannya sederhana, apakah setelah kita sudah berusia ? pensiun ? purnah tugas ?, apakah kita masih bermanfaat buat dunia ? atau ruang lingkup kecil seperti keluarga ?

 

Apakah, ketika kita pensiun apa bisa lebih bermanfaat dari pada celana “jebol” yang masih bisa alih fungsi sebagai kain lap untuk bersih – bersih ?

 

Apakah, ketika kita pensiun apa sudah bisa “bersantai dan jalan – jalan” ?

 

Setijo Agus

Surabaya, 28 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: