Create Local YUM repository on CentOS 7 / RHEL 7 using DVD

13 Feb

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Create Local YUM repository on CentOS 7 / RHEL 7 using DVD
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
# df -h
/dev/sdb1       3.9G  3.9G     0 100% /run/media/root/CentOS 7 x86_64
# ln -s /run/media/root/CentOS\ 7\ x86_64/ /mnt/cdrom
# ls -la /mnt/cdrom/
# vi /etc/yum.repos.d/local.repo
[LocalRepo]
name=Local Repository
baseurl=file:///mnt/cdrom
enabled=1
gpgcheck=1
gpgkey=file:///etc/pki/rpm-gpg/RPM-GPG-KEY-CentOS-7

# yum clean all
# yum install vsftpd

change hostname CentOS 7

13 Feb

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
change hostname CentOS 7
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
# hostname
localhost.localdomain
# nmtui-hostname
# systemctl restart systemd-hostnamed
# hostname
linux.localdomain

Disable SELinux & firewall CentOS 6.4

13 Feb

Disable SELinux CentOS 6.4
Disable firewall CentOS 6.4

# sestatus
SELinux status:                 enabled
SELinuxfs mount:                /sys/fs/selinux
SELinux root directory:         /etc/selinux
Loaded policy name:             targeted
Current mode:                   enforcing
Mode from config file:          enforcing
Policy MLS status:              enabled
Policy deny_unknown status:     allowed
Max kernel policy version:      28

# sed -i ‘s/enforcing/disable/g’ /etc/selinux/config /etc/selinux/config

# service iptables save
# service iptables stop
# chkconfig iptables off

# reboot

2014 in review

31 Dec

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 44.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 16 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

2013 in review

31 Dec

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 55,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 20 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Faktor “Becak”

3 Dec

Beberapa tahun yang lalu, seperti hari – hari sebelumnya setiap pagi ketika anak kedua saya masih TK, saya antar ke sekolah naik sepeda motor kesayangan.
Dan seperti sebelum – sebelumnya saya selalu taat ber-lalu lintas, kalau pas “bang jo”, merah saya berhenti, sebaliknya pas hijau saya jalan.
Dan karena sudah “pengalaman” belasan tahun sejak 25-35 tahun yang lalu bersepeda motor, saya akan sebisa mungkin tidak di belakang Mikrolet atau Taxi, agar terhindar dari berhenti mendadak.

Pokoknya seperti pengendara sepeda motor yang berpengalaman, saya selalu berusaha mengantisipasi segala kemungkinan yang timbul. Termasuk dari sesama pengendara sepeda motor yang semakin hari tambah banyak kayak “RAYAP”.

Tetapi terjadilah peristiwa kecelakaan yang sampai hari ini nggak pernah saya lupakan, dimana tiba – tiba becak dari kiri nyelonong memotong jalur sepeda motor yang saya kendarai, persis kayak adegan film action “ndlosor…” sampai 5-7 meter terseret.
Setelah “eyel-eyelan” sama pak becak dibantu beberapa saksi mata serta yang tiba – tiba polisi lalu lintas yang tiba – tiba muncul, perkara duel sepeda motor vs becak bisa selesai dengan damai.

Pasti banyak yang menduga
saya harus bayar berapa ke polisi ?
saya harus bayar ganti rugi berapa ke pak becak ?

Semuanya saya bayar dengan gratis dan ucapan “terima kasih” baik ke pak polisi yang “berhati mulia”, serta pak becak yang pagi itu membuat “tatto sementara” di tangan dan kaki saya dan sedikit di kaki anak saya.

Kalau kita renungkan kadang kala semua faktor – faktor kehidupan sudah diusahakan untuk diantisipasi, diperhitungkan bahkan diramalkan, tetapi ada saja faktor “Becak” yang tiba – tiba memotong jalur kehidupan kita.
Pengalaman “belasan tahun” di kehidupan tidak selalu menjadi jaminan untuk terhindar faktor “Becak”.

Jadi sudah siapkah kita menghadapi Faktor “Becak” yang nyelonong di kehidupan kita ?

Celana Pendek “jebol”

28 Nov

Celana Pendek “jebol”

Malam Tadi celana tidur yang saya beli 5 tahun yang lalu “jebol”, rasanya sedih (bukan lebay lho). Sebagian besar kita, paling senang pakai baju, celana yang “tuwir” untuk tidur, bahkan kadang warnanya kusam dan robek kecil – kecil, biasanya alasannya karena nyaman dan pas untuk tidur.

 

Pagi tadi saya ngomong sama mbak asisten untuk “jangan dicuci lagi” dan “jika perlu untuk bersih-bersih”. Mbak asisten malahan menjawab sebenarnya celana “jebol” itu sudah pernah dijahit. Mbak Assiten malah nanya apakah nggak dijahit saja lagi ?

 

Saya putuskan untuk mem-pensiun-kan saja celana “jebol” ini, sebab saya rasa sudah nggak mungkin dijahit, karena sudah “memet”.

 

Kejadian sederhana ini sebenarnya sangat berdekatan sekali dengan acara siangnya, salah satu rekan kerja “purna bakti” setelah 23 tahun bekerja. Rekan tersebut “baru” berumur 55 tahun. Secara fisik masih sehat.

 

Pertanyaannya sederhana, apakah setelah kita sudah berusia ? pensiun ? purnah tugas ?, apakah kita masih bermanfaat buat dunia ? atau ruang lingkup kecil seperti keluarga ?

 

Apakah, ketika kita pensiun apa bisa lebih bermanfaat dari pada celana “jebol” yang masih bisa alih fungsi sebagai kain lap untuk bersih – bersih ?

 

Apakah, ketika kita pensiun apa sudah bisa “bersantai dan jalan – jalan” ?

 

Setijo Agus

Surabaya, 28 November 2014

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.